Delapan tahun yang lalu, kami hanyalah dua orang yang dipertemukan pada waktu yang tidak disengaja, lalu dipisahkan oleh jarak yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya.
Bukan hanya beda kota, tapi beda negara.
Berada di dua tempat yang bahkan memiliki musim, waktu, dan kehidupan yang berbeda.
Namun dari percakapan yang sederhana, tumbuh rasa yang perlahan menjadi rumah bagi hati kami masing-masing.
Kami membangun hubungan ini dengan layar ponsel sebagai jembatan.
Dengan panggilan video yang menghapus rindu.
Dengan pesan suara yang menjadi pengantar tidur.
Dengan doa dan keyakinan bahwa semua jarak ini suatu hari nanti akan terbayar.
Kami belajar menerima bahwa pertemuan tidak akan datang kapan kami mau.
Bahwa kadang satu tahun hanya memberi satu atau dua kesempatan untuk bertemu.
Bandara menjadi tempat paling emosional, tempat kami bertemu dengan senyum dan berpisah dengan air mata yang tertahan.
Waktu di setiap pertemuan terasa berjalan lebih cepat.
Seakan rindu yang panjang ingin membalas semua detik yang hilang.
Namun justru dari momen singkat itulah kami sadar bahwa cinta ini terlalu besar untuk dikalahkan oleh jarak.
Selama delapan tahun, kami melewati banyak rindu yang tak sempat terucap.
Ada kabar bahagia yang tidak bisa kami rayakan bersama.
Dan akhirnya, setelah delapan tahun menabung rindu, doa, dan kesabaran, kami tiba pada titik di mana kami tak ingin lagi menjalani hari-hari dari dua negara yang berbeda.
Pada sebuah momen penuh haru, kami memutuskan untuk menyatukan langkah.
Untuk menghapus jarak yang selama ini kami hadapi.
Untuk membangun kehidupan yang tidak lagi dihitung dengan jam perbedaan waktu, tiket pesawat, ataupun tanggal keberangkatan.
Kini kami melangkah menuju hari bahagia, hari ketika dua hati yang telah lama dipisahkan oleh jarak akhirnya dipersatukan oleh janji suci.
Dengan penuh syukur dan kebahagiaan, kami mengundang anda untuk menjadi saksi dari bab baru kehidupan yang akan kami lalui.
Akhir dari LDR delapan tahun, dan awal dari kehidupan bersama tanpa jarak.