Benih Cinta dari Tuhan (21 April 2019)
Tak pernah kami duga, perayaan Paskah 21 April 2019 menjadi awal kisah cinta kami. Dwi diajak temannya merayakan Paskah di GKKD Yogyakarta untuk pertama kalinya, sedangkan Fandy sudah menjadi jemaat di gereja itu. Momen itu menjadi pertemuan dan perkenalan pertama kami. Uniknya sejak 2016 kami sudah sama-sama kuliah di UGM, namun takdir baru mempertemukan kami tiga tahun kemudian. Tanpa kami sadari, hari itu menjadi pertemuan paling penting dalam hidup kami dan dari situ kisah kami dimulai – “Benih cinta dari Tuhan ditaruh dalam hati kami”.
Cinta Tumbuh dalam Diam (21 April – 21 Desember 2019)
Setelah pertemuan pertama itu, kami bertemu lagi di beberapa kegiatan rohani dan berkomunikasi lewat media sosial dengan topik paling sering kami bahas yaitu mengenai Karakter dan Bible Study. Saat Dwi KKN di Sangihe daerah terpencil dan Fandy melaksanakan PKL, komunikasi menjadi jarang tapi isi obrolannya semakin dalam. Setelah masa KKN dan PKL komunikasi kembali intens, kami saling mendukung dalam kegiatan kampus dan skripsi. Hingga 2 November Fandy akhirnya mengajak Dwi bertemu berdua pertama kali. Ternyata pertemuan sederhana itulah saat di mana keterbukaan dan kepercayaan terkonfirmasi sepenuhnya – “Benih cinta mulai berakar dan bertunas”.
Puncaknya 21 Desember 2019 sepulang ibadah Natal, Fandy mengajak Dwi makan malam. Di sana ia menceritakan; ajaibnya pertemuan mereka, checklist pasangan hidup yang dia sudah cek, dan diskusinya dengan orang tua. Ternyata selama ini, Dwi juga sudah melakukan hal yang sama. Maka dimulailah perjalanan kami untuk saling berkomitmen satu sama lain – “Benih cinta mulai bertumbuh”.
Cinta Mulai Berbunga, Bermekaran dan Mewangi (21 Desember 2019 – 21 Desember 2024)
Petualangan kami dimulai dari jarak. Tanggal 22 Desember 2019 Fandy berangkat KKN di Sumba Timur, kembali bertemu sejenak dan tak lama kemudian Maret 2020 Dwi pulang ke Jambi karena pandemi. Skripsi pun kami selesaikan secara daring, dari dua kota yang berbeda. Setelah lulus, Dwi kembali ke Yogyakarta untuk studi S2, dan Fandy mulai mencari pekerjaan. Tahun pertama ini mengajarkan kami bahwa “saling mendukung lebih penting dari sekadar bersama”.
Dwi mulai sibuk kuliah, dan Fandy masih belum mendapat pekerjaan. Masa-masa ini tidak mudah; ada kecewa, konflik, dan rasa ingin menyerah. Tapi Dwi menjadi support system utama Fandy mencari pekerjaan, ia tak berhenti percaya bahwa Fandy cocok di bidang sales. Setelah dorongan tanpa lelah dari Dwi, akhirnya Fandy mendapatkan pekerjaan pertamanya di bidang sales. Tahun kedua ini mengajarkan kami bahwa “cinta yang mendorong, bisa menghidupkan harapan”.
Kini giliran Dwi bergumul dengan tesis. Kondisi mentalnya goyah, konflik kembali datang. Tapi Fandy tetap hadir, mendampingi Dwi sampai akhirnya lulus S2 dan kami rayakan bersama orang tua Dwi sebelum kembali menjalani LDR. Dwi pulang ke Jambi dan Fandy setelah Dwi lulus langsung memutuskan resign dari pekerjaan lama dan melamar pekerjaan kembali. Tahun ketiga ini mengajarkan kami bahwa “cinta hadir bukan hanya saat senang, tapi justru saat lemah”.
Akhirnya setelah satu bulan resign, Fandy mendapatkan pekerjaan baru, dan beberapa waktu setelah menjalani orientasi di Jakarta, Fandy kemudian ditempatkan di Bali. Ini adalah momen LDR terpanjang kami karena tidak bertemu selama 15 bulan. Saat masa-masa LDR yang panjang tersebut, Dwi masih berjuang mencari pekerjaan. Kali ini, gantian Fandy yang jadi penyemangat utama. Ia percaya Dwi cocok menjadi PNS, dan terus mendukung prosesnya dari awal hingga akhir seleksi CPNS. Di akhir 2023, Fandy mengajak Dwi berlibur ke Sigalingging dan Jambi sambil menunggu hasil tes CPNS. Tahun keempat ini mengajarkan kami bahwa “cinta tak selalu mulus, tapi bisa saling menguatkan”.
Akhirnya, tahun kelima adalah tahun jawaban doa. Dwi diterima sebagai PNS di Jakarta. Tak lama, Fandy juga dipindahkan ke Jakarta. Setelah lima tahun ditempa jarak dan waktu, kami sadar inilah waktunya. 21 Desember 2024 Fandy melamar Dwi secara personal, kami percaya untuk melangkah ke jenjang pernikahan bukan karena semuanya selalu mudah, tapi karena kami tahu — “Tuhanlah yang merajut cinta ini sejak awal”.
Bahkan saat sebelum Fandy melamar dan setelah kami baru saja ingin merencanakan pernikahan ini, kami sedang menghadapi pergumulan-pergumulan berat, salah satunya mengenai kesehatan orang tua kami. Namun, ada damai dan sejahtera yang melampaui segala akal yang membuat kami masih terus melangkah hingga saat ini.
Cerita ini sejak awal dan hingga saat ini selalu kami rasakan ajaib, karena kerap kali kami sudah kehabisan akal namun Tuhan tidak pernah kehabisan rencana, dan kami bersaksi bahwa penyertaan dan anugerah Tuhan benar-benar nyata dalam hubungan kami ini.
Kami berharap sampai nanti dan selama-lamanya Tuhanlah terus yang akan merenda kisah ini.
#TheStoryWillbeFantastic