

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.
Qs Ar-Rum 21
Acara akan diisi dengan nasihat pernikahan oleh Dr. H. Das’ad Latif, S.Sos., S.Ag., M.Si., Ph.D., yang menekankan pentingnya membuktikan cinta melalui perbuatan, bukan sekadar ucapan.
Beliau juga mengingatkan untuk memuliakan istri dengan memberikan yang terbaik (halal dan thayyib), tetap berbakti kepada orang tua, serta menghormati dan mendukung pasangan secara utuh.
Pada hakikatnya, pernikahan adalah ibadah yang menuntut pengorbanan, kasih sayang, dan bukti nyata pengabdian.
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dengan memohon rahmat dan ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala, kami bermaksud menyelenggarakan acara pernikahan putra-putri kami:
Putri Pertama dari
Bapak Ir. H. Samsuddin, M.T., M.Mar.E., IPM.
& Ibu Hj. Madianah, S.KM., M.Kes.
Putra Kedua dari
Bapak Andi Habil Dising Tiro, S.E.
& Ibu Dahlia Haruna Rasyid, S.E.
Tompobulu, Kec. Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan
Bantu kami mempersiapkan acara yang aman dan jamuan yang hangat untuk anda semua dengan mengirimkan konfirmasi kehadiran melalui form berikut:
Kami pertama kali dipertemukan pada 8 Oktober 2025. Sebuah tanggal yang tampak sederhana, namun justru menjadi awal dari perjalanan panjang yang tidak pernah kami duga. Saat itu kami masih dua orang asing, namun Allah telah menuliskan kisah yang jauh lebih indah dari apa pun yang bisa kami rencanakan.
Kami memulai semuanya dengan proses ta’aruf—sebuah langkah yang penuh kehati-hatian, kesungguhan, dan niat baik. Tidak ada yang benar-benar mudah sejak awal. Perjalanan kami tidak selalu mulus; ada keraguan, ada jarak, serta momen-momen di mana kami harus berhenti sejenak untuk menenangkan hati. Kami belajar meyakinkan diri dan saling menguatkan bahwa ini bukan sekadar perasaan sesaat, melainkan langkah yang ingin kami jaga dalam batas syariat dan ridha-Nya.
Justru dari proses itulah kami menemukan makna. Kecocokan hadir perlahan, namun terasa semakin pasti. Kami menemukan ketenangan, kenyamanan, dan penerimaan satu sama lain apa adanya. Kami belajar untuk saling membuka diri, saling menguatkan, dan memahami bahwa hubungan yang baik tidak selalu dimulai dari kesempurnaan, melainkan dari niat yang tulus dan hati yang siap untuk bertumbuh bersama.
Dalam perjalanan ini, kami juga melibatkan orang tua. Ada banyak diskusi, nasihat, dan pertimbangan yang akhirnya mengantarkan kami pada satu hal yang paling kami harapkan—restu. Doa dan ridha orang tua menjadi penguat langkah kami, mengiringi setiap keputusan yang kami ambil.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa semua ini bukan semata karena usaha kami, melainkan karena rahmat dan kemudahan dari Allah SWT.
Hingga akhirnya, dengan hati yang mantap dan penuh harap, atas izin Allah SWT serta restu kedua orang tua, kami memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Menyempurnakan separuh agama, dan memulai perjalanan baru dalam ikatan yang Insya Allah dipenuhi sakinah, mawaddah, dan warahmah.
Alhamdulillah, momen yang kami nantikan pun terwujud. Kami telah melaksanakan akad nikah di Masjidil Haram, bertepatan dengan hari Jumat, 1 Syawal 1447 H—hari yang suci di Hari Raya Idul Fitri. Sebuah awal yang penuh keberkahan, yang akan selalu kami kenang sebagai titik mula perjalanan kami sebagai suami dan istri.
Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Saudara/i dapat bersedia hadir dan memberikan doa restu kepada kedua mampelai.